Kali ini untuk diriku sendiri

Bertambahnya usia memberikan tanggung jawab kepada setiap orang untuk bersikap dewasa. Walaupun setiap orang tahu bahwa dewasa adalah pilihan, tapi tetap saja sangat minim orang yang enggan memilih untuk dewasa. Akan tetapi hal ini terkadang disalah artikan oleh dominan orang. Banyak orang yang menganggap dewasa merupakan satu-satunya pilihan, yaitu antara dewasa atau mati. Oleh karena  itu, tidak heran jika banyak orang yang menganggap menjadi dewasa merupakan beban yang harus diterima. Baik itu merupakan pilihan secara sengaja maupun tidak sengaja, dewasa yang dianggap beban pada akhirnya akan menempah kita memiliki mental korban yang cenderung keras pada diri sendiri dan tidak mencintai diri.

Aku mulai menyadari hal ini, setelah aku mengalaminya dan kebetulan (walaupun aku tidak percaya adanya kebetulan) aku membaca "Time of Your Life - Rando Kim" (Terimakasih kepada Nadame yang telah meminjamkannya). Aku menyadari bahwa banyak hal yang tidak aku ketahui tentang menjadi dewasa. Menurutku, dewasa harusnya bagaimana manusia memikirkan segala sesuatu dengan mempertimbangkan dampak jangka panjang dan bagaimana hidup dengan penuh pengharapan dan nilai-nilai kebahagiaan diri sendiri. Mencoba melepaskan keinginan untuk diterima banyak orang dan memcoba membuat orang-orang merasa iri dengan kita dan mencoba memahami apa yang diri kita butuhkan. Menjadi dewasa yang lebih berfokus pada diri sendiri dan juga melihat dunia seolah akan hidup selamanya. 

Awalnya aku sangat percaya diri bahwa aku adalah salah satu orang spesial yang dapat dikatakan tumbuh dewasa dengan cepat. Setelah aku pahami, dominan yang kupikirkan ialah dampak jangka pendek. Aku selalu berpikir bagaimana caranya mendapatkan uang berlimpah diusia 20an, memiliki aset dan dapat memberi kelimpahan kepada ayah ibu juga adik-adikku (aku merupakan anak pertama dari 4 bersaudara dan sebenarnya Ibuku memutuskan merawat 2 orang keponakannya, yang secara otomatis dapat dikatakan bahwa aku merupakan anak pertama dari 6 bersaudara). Bagaimana aku harus berhenti menjadi beban orangtuaku dan menjadi tempat curhat dan si penyelesai masalah keluarga yang handal. Aku dipenuhi pikiran bagaimana menjadi manusia idaman, dengan konsep orang kuat yang selalu membuat orang iri. Tanpa aku sadari, aku tidak dapat memisahkan antara keinginanku menjadi dewasa dan menjadi kaya secara materi (atau duniawi). Akan tetapi, setelah BPD menyerangku habis-habisan dan aku hanya berencana hidup sampai umur 18 tahun (yang kemudian aku tambah setiap momennya), aku mencoba melihat apa yang salah padaku (walaupun sedikit telat karena aku memutuskan untuk memulainya pada usia 21).

Aku memilih untuk mencoba lebih mencintai diriku sendiri dan mencintai masa depanku. "Aku juga punya harapan" kalimat itu selalu menemaniku dalam menyelesaikan segalanya. Terlepas dari hal-hal yang harus dilakukan untuk menjadi "dewasa" yang dimaksud (walaupun sebenarnya lebih mengarah pada 'disiplin') seperti harus bekerja keras, bangun pagi, bertanggung jawab dan tepat waktu. Aku memilih untuk menikmati setiap prosesnya tanpa menyalahkan diri. Aku menerima bahwa diriku memang bukan satu-satunya dalam konteks apapun. Aku tidak perlu menjadi spesial, aku hanya perlu menikmati menjadi versi terbaik diriku. Hidup seperti seorang amatir.

Saat aku menerima diriku sendiri, aku tidak perlu membohongi apa yang aku rasakan. Aku akan menangis saat aku merasa sedih, aku akan marah dan bahagia tanpa mengkhawatirkan apapun. Awalnya akan banyak penolakan, tapi selama pengalamanku... penolakan yang diberikan bukan karena kamu aneh hanya saja mereka belum terbiasa dengan versi dirimu yang ini. Jika kamu bisa meyakinkan diri, menekan emosi untuk bersosial mengapa mereka tidak? Sama seperti kamu, mereka juga akan terbiasa. Bukan berbicara tentang egois atau apapun itu, tanpa kamu sadari menahan diri tidak akan mengubah apapun pada mereka. Jangan mengorbankan diri dan menanggung beban yang sia-sia. Dunia akan baik-baik saja jika kamu menjadi diri sendiri dan fokus pada versi terbaikmu, bukan versi yang orang-orang inginkan. Sebenarnya, tidak ada yang berlebihan selama kamu dapat memasukkan dan mengeluarkan dengan rajin. Berlebihan itu disebabkan oleh emosi yang lama kamu tumpuk sehingga saat keluar ia akan meledak. Jadi... mau sampai kapan kamu akan menumpuk emosimu? Jangan meyakini hal yang tidak mungkin, salah satunya ialah "kamu dapat menahannya hingga akhir" itu tidak akan mungkin terjadi. Jika kamu sudah terlanjur memendamnya dan sudah terlanjur menumpuk. Daan kamu merasa akan meledak, tidak apa. Tarik napas yang panjang hembuskan pelan-pelan dan keluarkan emosinya setidaknya dari 100% kamu dapat menyicilnya keluar menjadi 25% maupun 50%. 
Aku tau itu tidak akan mudah. Kamu akan merasa ada yang mendidih di kepalamu, jantungmu serasa diremas dengan kuat dan nafasmu akan terasa sesak saat kamu melakukannya. Tidak apa, nikmati saja... itu bagian dari prosesnya. Menangislah  sembari kamu merasakannya, berteriak sepuasmu dan pukul bantal sekuat tenagamu. Jika kamu merasa selama ini tidak memiliki alasan untuk menangis, teriak dan marah, ini adalah alasan yang tepat karena saat kamu merasakan sakit secara fisik (walaupun sebenarnya ini bukan alasan sesungguhnya, setidaknya kamu memiliki alasan untuk melakukannya). Selama kamu merasakannya,  tubuhmu akan terasa panas dan kulitmu akan memerah, jadi orang tidak akan merasa aneh jika kamu melakukannya (walaupun ini terdengar seperti penghiburan, tapi ini nyata). Melalui tulisan ini, aku menemanimu. Aku tidak tau persis bagaimana perasaanmu yang sesungguhnya tapi aku paham bahwa itu sangat menyakitkan.

Pelan-pelaaan.... Kita mencoba mengubah haluan kita.
Pelan-pelaaan... Kita memperluas jangkauan pandang kita
Pelan-pelaaan... Kita membuka sosok yang telah lama kita sembunyikan untuk diakui orang lain
Pelan-pelaaan.... Kita melihat kembali masa lalu dan memeluk diri kita di masa lalu sembari mengatakan "Maaf karena aku terlalu keras padamu"
Pelan-pelaan.... Kita memaafkan kesalahan-kesalahan yang kita perbuat di masa lalu
Pelan-pelaaan.... Kita mencoba terbiasa dengan berfokus pada penerimaan diri sendiri

Pelan-pelan, iya pelan-pelan saja. Hidup bukan sebuah lomba lari, melainkan perjalanan wisata. Saat kamu menjalaninya pelan-pelan, kamu akan melihat dengan jelas banyak bunga indah yang mengiringi sepanjang jalanmu. Baik saat melalui tanjakan maupun turunan akan ada bunga indah di sana.
Pelan-pelaaaan saja.

"Aku mungkin tidak menjadi yang terbaik, tapi aku memberikan usaha terbaikku."
Kali ini untuk diriku sendiri

Komentar

Unknown mengatakan…
selalu merasa tidak sendiri kalau baca tulisanmu lel. makasih💕

Postingan populer dari blog ini

Untuk si penempuh titik balik - Amor fati

Bersama Tuhan, Aku mampu