My skripsweet's blue
Kali ini, aku ingin bercerita tentang apa yang aku rasakan selama proses skripsiku. Aku ingat jelas bagaimana rasanya merasa sampah dan sangat tertinggal. Seolah-olah tidak memiliki progress. Menyalahkan diri sendiri, dan dari dalam diri kita ada sosok yang teriak "Aku tidak sanggup seperti ini lebih lama lagi.". Saat sosok itu berteriak mulai muncul banyak hal di dalam pikiran. Banyak hal yang menyamar sebagai solusi, sangkin banyaknya ia menutup solusi itu sendiri. Aku mulai ragu apakah aku masih berguna di hidup ini? Apakah akan datang hal yang lebih buruk?
(Menurutku, teriakan "Aku tidak sanggup seperti ini lebih lama lagi" itu merupakan suatu permohonan agar kita lebih memperdulikan diri kita sendiri. Memberi kelonggaran tanpa berhenti mengembangkan diri. Meminta agar kita mencoba untuk berpindah fokus pada aspek lain dan melihat bagian mana yang dapat dikembangkan pada saat-saat seperti ini. Salah satunya ialah kesabaran. terkadang orang fokus kepada mindset yang terbuka dan dispilin yang baik, tapi lupa bahwa kesabaran juga bagian dari karakter impian bukan? Mungkin dia tampak pasif, tapi dia kunci dari segalanya. Dengan bersabar dan menahan sedikit lagi, kita dapat menumbuhkan harapan karena akan tiba waktunya kesempatan tiba dan kita akan kembali ke titik tujuan yang kita tentukan.) Ini kudapatkan saat aku mulai mengonsumsi obat sehingga sedikit demi sedikit emosiku mulai stabil dan aku mulai berpikir dengan jerni.
"Tetap positif" katanya. Percayalah aku mencoba. Aku mencoba untuk berdiskusi dengan diriku sendiri. Meyakini bahwa Tuhan punya rencana indah. Mencoba menghibur diri, mencari hal yang dapat aku syukuri setiap harinya. Anehnya, saat terbangun di pagi hari terbersit sedikit penyesalan. "Mengapa harus bangun? Apa bukan waktunya?". Sebisa mungkin aku mengabaikannya, tapi dia selalu datang.
Lagi.... "Hidup yang menyedihkan"
Aku mengganti 5 proposal setiap 2 minggu dan tidak direspon setiap bulan. Memaksakan diri membaca jurnal sambil menangis dengan alibi mempersiapkan diri. Emosi yang tidak stabil dan harapan yang semakin menipis. Pada saat itu juga, aku mulai memutuskan untuk mengikuti terapi psikiatri. Sulit berkonsentrasi adalah satu satunya gejala yang kubenci dan membuatku harus ke psikiater. Aku tidak dapat tidur dan tidak dapat berkonsentrasi. Bukankah itu sangat membuang-buang waktu dan membuatmu merasa semakin sampah?
"Si Dito cepat ya lulusnya. Kau gimana?" Terdengar biasa saja, tapi membuatku ingin berhenti bernafas pada saat itu juga.
"Mama gapernah cerita ke teman-teman mama soal skripsimu, takut mama dibilang kau bodoh karena skripsimu ditolak terus. Jadi mama bilang aja kau gangapa-ngapain" (walaupun sebenarnya aku berharap mereka lebih menghargai prosesku, tapi sudahlah.... cukup berpikir ada mindset yang tidak boleh ditiru.)
"Kami orang tua kan liatnya hasil, bukan proses. jadi tunjukanlah kalau kau usaha dari hasilnya"
"Mama malu cerita ke orang-orang tentang kau, nanti dibilang pula mama punya anak gila."
"Kau cuman kurang bersyukur aja. Cobalah bersyukur. Banyak orang di luar sana gabisa kuliah karena orang tuanya miskin. Gausahlah berharap yang aneh-aneh. Jangan terlalu tinggi mimpimu. Gaperlu ke psikiater psikiater itu."
"Aku gamau membantu orang dengan kesan manja....." ucap seorang cumlaude (yang sangat membuatku kagum dengan apa yang ia lakukan, tapi secara tidak langsung membuatku semakin membenci diriku sendiri. Untuk diriku sendiri, maaf karena aku kurang dewasa)
Saat itu mungkin itu terdengar menyakitkan, makanya aku memutuskan untuk menutup telingaku. Aku hanya akan membukanya kepada orang yang pantas. Tak terhitung berapa kali aku menangis baik memalui telepon maupun chat kepada temanku (You know I love you, right? HAHAHA). Aku masih sangat ingat bahwa itu sangat menyakitkan. Bahkan saat menulis ini pun aku masih memiliki sisa air mata untuk mengenang moment itu. Tak apa, aku dibentuk dari hal-hal seperti itu. Sejujurnya, aku lebih menyukai dan bersemangat jika seseorang mencoba memahamiku tanpa memberiku solusi apapun karena aku merasa aku dapat mengatasinya sendiri. Tapi, mungkin dominan orang salah mengerti karena sifatku yang keras kepala dan kasar. Btw, itu bukan salahmu, hanya aku yang terkadang sulit memproses apa yang diberikan. Untuk sekarang dan mungkin seterusnya, tak apa. Aku sudah membuat saringan terbaik untuk diriku sendiri.
Selama prosesnya, aku berusaha menahan diri untuk tidak melihat orang lain. Aku mengatakan pada diriku sendiri "Waktunya akan tiba. Tuhan punya rencana.". Walaupun seperti itu, jujur terkadang terbersit pemikiran seperti "Seandainya aja aku kaya dia yang......." tapi aku buru-buru menyadarkan diri mengatakan "Kamu tidak tau apa yang mereka alami, semua orang punya kuatnya masing-masing. Jadi jangan berandai-andai yang sia-sia.". Saat merasa berada di bawah, kau mulai melihat yang di atas dengan tatapan iri bukan, itu hal yang wajar. Yang membuatnya tidak wajar ialah karena kamu menikmati momen iri tersebut dan berhenti di sana.
Sebenarnya banyak yang lebih menderita daripada aku, aku tau itu. Tapi aku tidak akan melebih-lebihkan ceritaku ataupun menganggap remeh perasaanku hanya karena banyak yang lebih menderita bukan? Aku menerimanya sama seperti aku menerima bahwa aku lemah dan masih harus banyak belajar serta berusaha.
"Aku mungkin tidak menjadi yang terbaik, tapi aku memberikan usaha terbaikku"
My skripsweet's blue
Komentar
Posting Komentar