Bersama Tuhan, Aku mampu

Aku bertemu dengan seorang adik tingkat. Seperti yang telah aku katakan "aku tidak percaya dengan kebetulan". Aku menyukai cara dia berinteraksi, cara dia menanggapi suatu hal dan cara dia menjalankan segalanya. Dia terlalu sulit dijangkau, aku tidak tau apa yang ingin ia tuju. Dia mengikuti organisasi sampai jabatan setinggi mungkin, dia mengikuti segala perlombaan dengan baik, dia juga memperoleh nilai kuliah dengan baik. Dengar-dengar, dia kurang beruntung dibagian hubungan asmara. Well, siapa yang perduli dengan itu di usia menjelang 20?

Singkat cerita, aku dan keambanganku mencoba ikut mendukungnya untuk menduduki salah satu jabatan di Fakultas. ------ Walaupun aku tidak berbuat apapun, keambanganku memaksaku untuk pamer HAHAHA. whatever, aku benci menyesali kebodohanku. Tooh aku tidak merugikan orang lain. Aku hanya bertindak bodoh dan aku yang dirugikan atas itu. Walaupun sebenarnya ada banayk pihak yang trauma akibat  perbuatanku dan aku selalu dihantui rasa bersalah. Tapi aku tidak dapat kembali ke masa lalu, bukan? Satu-satunya cara ialah hidup dengan menjadi pribadi yang lebih baik (dan meminta maaf jika memiliki kesempatan). Tapi, untuk saat ini aku terlalu malu untuk meminta maaf. Maafkan aku. Aku janji akan meminta maaf padamu suatu saat nanti, jangan berhenti berjuang sampai hari itu oke?! Doaku menyertaimu. ------ Dia menulis "Bersama Tuhan, Aku mampu" dalam motto hidupnya.

Dia tidak menulis "mulai dari hal yang kecil" atau "kerajinan kunci kesuksesan" atau apapun itu, dia menulis "bersama Tuhan, aku mampu". Bodohnya beberapa detik itu cukup menamparku. Walaupun aku membuatnya sebagai lelucon, tapi itu sangat menamparku.

Selama ini, aku hanya menganggap Tuhan sebagai orang tuaku. Aku memutar balikkan kata "Orang tua adalah Tuhan yang kita lihat" menjadi "Tuhan adalah orang tua yang tidak kita lihat".  Aku merasa aku tidak perlu melaporkan pada-Nya apa yang sedang aku lakukan selama aku dapat melakukannya sendiri. Aku hanya perlu datang saat aku memerlukan bantuan-Nya karena Ia juga mengurusi banyak hal. (Tentu saja hal ini terlepas dari ucapan syukur yang kuucapkan secara rutin walaupun kadang terasa seperti formalitas tapi aku tau aku bersungguh-sungguh berterima kasih akan hal itu.) Hal itu membuatku marah pada diriku  sendiri jika aku tidak berhasil, karena aku merasa segala yang aku lakukan dan tidak aku doakan hanya berasal dari apa yang aku kontrol. Seiring berjalannya waktu, aku sadar bahwa Tuhan bahkan ada saat aku sedang bernafas tanpa melakukan apapun. Ia ada dan hadir padaku. Baik hal besar maupun hal kecil, Ia selalu hadir. Bahkan Dia juga turun tangan dalam kegagalanku, Dia tau apa yang lebih baik untukku (walaupun sebenarnya saat ini, aku berusaha sekuat  tenaga meyakinkan diri untuk percaya dan kembali mengingat masa saat aku sadar akan rencana Tuhan). Aku hanya perlu memebrikan usaha terbaikku, selebihnya Dia yang akan memutuskan.

Peristiwa yang aneh bukan? Hanya perkara membaca biodata dari adek tingkatku, aku mengalami hal gila. Bagi banyak orang, mindset itu mungkin biasa. Bagiku tidak. Aku mencari makna Tuhan dan Hidup sendirian. Jadi banyak hal yang terlewatkan dalam hidupku. hal penting yang kuabaikan karena terlalu berambisi untuk berlari sekencang mungkin. Dengan berapi-api mengatakan "aku lebih menikmati prosesnya daripada hasilnya." padahal saat menjalaninya mataku fokus tertuju pada garis finish, tanpa memperhatikan bunga indah saat tanjakan dan turunan.

Saat ini...
Diturunan ini, aku mulai menjalani titik balikku. Mencoba untuk melihat kembali bunga-bunga yang mengiringi jalanku. Mencoba merasakan kembali naik dan turunnya jalan yang pernah aku lalui. Dengan lebih santai dan lebih pasti, bersama Tuhan, aku mampu.

"Aku mungkin bukan yang terbaik, tapi aku memberikan usaha terbaikku."
Bersama Tuhan, aku mampu


Dear Christabel Putik
Aku beruntung bertemu denganmu :) 
Terimakasih telah mengingat wejanganku
(Anda memenuhi asupan narsistik saya hehehe)
- with love -

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Untuk si penempuh titik balik - Amor fati

Kali ini untuk diriku sendiri