Hellooooooo...... It's me


Hi!!! Apakabar? Aku harap kalian baik-baik saja. Well, setelah lama vakum menulis, aku kembali. Saat ini, aku memutuskan untuk mencoba bangkit dan pelan-pelan keluar dari sosok yang menyedihkan. Setelah lama berdiam diri di dalam kegelapan, aku putuskan untuk menyalakan lilinku dan mencoba melihat diriku sendiri. Hampir 3 tahun berlalu bukan? Sekarang aku sangat banyak berubah, kamu tahu? Pertengahan 2018 aku mendapatkan teman pertamaku, walaupun saat itu kami belum dapat terhubung secara emosional setidaknya dia mengurangi rasa kesepianku karena dia selalu menemaniku makan dan menemaniku untuk melakukan apapun yang perlu kulakukan. Akhir 2018 aku akhirnya mendapatkan teman keduaku. Kejadiannya sangat tidak terduga hahaha... Awalnya aku hanya ingin membicarakan tentang organisasi bersama para pencinta politik di kampusku. Seiring berjalannya waktu, kami jadi sering berdiskusi dan kebetulan karena dia sering menginap di kostku. Awal yang sangat aneh bukan, tapi aku percaya tidak ada yang kebetulan di dunia ini.

Aku rasa kamu tidak akan menyangka bahwa aku menjadi seorang pelayan di gerejaku. Banyak orang mengatakan bahwa aku melakukannya untuk menjadi pelarian karena banyak orang yang menghindariku di organisasiku. Aku akan menceritakan yang sebenarnya. Sejujurnya, aku sangat bersyukur dijauhi di organisasiku karena satu-satunya hal yang tidak kusesali ialah karena aku menjadi pelayan di gereja. Aku tidak perlu takut ketinggalan dan aku hanya menjalani hidupku sebagai seorang amatir. Aku melepas semua yang aku miliki baik itu pengetahuan dan harta atau apalah itu. Aku benar-benar menikmatinya. Aku menjadi guru sekolah minggu, mengikuti persekutuan, menjadi tim persiapan ibadah. Sedikit demi sedikit mereka membuatku menerima diriku apa adanya. menerima bahwa aku tidak akan pernah menjadi sempurna dan sadar bahwa akan selalu ada Tuhan yang mencintaiku tak perduli apapun dan bagaimanapun aku.

Mari kita kembali ke saat ini....
Sebelumnya aku minta maaf kepada kebanyak orang yang membenci pandemi, tapi pandemi memberiku banyak sisi positif. Seakan dunia memberiku waktu untuk berefleksi dengan diriku sendiri bertanya dan bercerita dengan diriku sendiri. Masa pandemi membuatku sadar bahwa banyak hal yang dapat kusyukuri ditengah situasi yang buruk. Dan lagi-lagi... hal yang membuatku  tidak berhenti mengucap syukur ialah karena aku memiliki 2 orang teman yang sangat sangat positif. walaupun terkadang ada moment yang membuatku  ragu akan masa depan, mereka meyakinkanku bahwa semua akan baik-baik saja. Semenjak pandemi aku menyadari bahwa selama aku memiliki mereka berdua, aku tidak keberatan berstatus single hehehe. Walaupun demikian, aku juga mencoba mengontrol diriku agar lebih mengevaluasi diri agar tidak terjadi hubungan yang timpang atau dengan kata lain, menyadari jika aku mulai bersifat toxic pada mereka. Karena terkadang aku tersadar dominan aku bercerita mengenai keluhan hidup maupun diriku sendiri.

Selanjutnya......
Aku akhirnya memutuskan untuk melakukan terapi ke psikiater. Hal ini berawal dari kisah perskripsian yang membuatku tidak bisa melakukan apapun. Aku selalu bertanya-tanya "Dari sekian banyak hal yang dapat membuatku lebih berkembang, kenapa harus menunggu dan berserah?" Rasanya seperti sampah karena aku tidak dapat melakukan apapun. Satu-satunya hal yang dapat kulakukan ialah menunggu. Emosiku sangat tidak stabil, aku benar-benar membunuh orang setiap harinya. Skripsi yang membuatku pasrah, orang tua yang omongannya kurang difilter, menjaga lansia yang menyebalkan dan mendidik adik-adik yang terkontaminasi efek HP membuatku semakin membenci dunia. Belum lagi aku harus menahan diri karena kondisi ekonomi yang semakin memburuk. Aku berhemat tidak melakukan hal yang kusukai sebagai hiburan, tidak pergi ke malang, tidak berbelanja yang hanya menyenangkan diri, tidak nongkrong di caffee untuk me time. Setidaknya aku memberikan 1 kelonggaran yaitu membeli buku. Aku berjanji pada diriku sendiri bahwa aku diperbolehkan membeli buku selama aku tidak terpaksa membelinya. Sejujurnya, hal itu sangat membantuku. Aku merasa senang dan aku berkembang, bukankah itu sangat menarik? Ngomong-ngomong soal psikiater sebenarnya aku tidak terlalu merasakan dampak dari terapinya, tapi aku benar-benar merasa lebih baik karena obat yang kukonsumsi. Hanya saja aku masih saja menjadi mayat bernafas. Aku belum memiliki visi dan ambisi. Tak apa, sekarang aku sedang berusaha....
Pelan.... pelan......

"Jika kamu ingin bercerita, kamu dapat menuliskannya di kolom komentar. Mendengarkan adalah salah satu hobbyku. Semangat!!! Mari mencintai diri sendiri. Pelan-pelan saja, semua akan baik-baik saja.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Untuk si penempuh titik balik - Amor fati

Kali ini untuk diriku sendiri

Bersama Tuhan, Aku mampu